Jumat, 15 Maret 2013

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN

1. Medan Makna Harimurti didalam buku chaer medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang makna nya berhubungan. Kata atau unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lainnya,sebab berkaitan dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Contoh nya nama perabot rumah tangga, istilah kekerabatan, dan istilah olahraga dll. Nama-nama istilah perkerabatan dalam bahasa indonesia adalah cucu,cicit,piut,bapak/ayah,ibu,kakek,nenek,moyang,buyut,paman,bibi,saudara,kakak,adik,sepupu,kemenakan,istri,suami,ipar,mertua,menantu,dan besan. Kata –kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadi dua,yaitu yang termasuk golongan kolokasi dan golongan set. Kolokasi ( berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada ditempat yang sama dengan) menunjukkan kepada hubungan sintagmatik yang terjadi antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Misalnya,pada kalimat tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam badai,lalu perahu itu digulung ombakdan tenggelam beserta isinya ,kita dapati kata-kata layar,perahu,nelayan,badai,ombak,dan tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi ,satu tempat atau lingkungan. Jadi berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam satu tempat atau lingkungan. Jadi,kata-kata yang berkolasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam stu tempat atau satu lingkungan. Dalam pembicaraan tentang jenis makna ada juga istilah kolokasi,yaitu makna kolokasi. Yang dimaksud disini adalah makna kata yang tertentu berkenaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasinya. Misalnya kata tampan,cantik,dan indah sama-sama bermakna denotatif “ bagus”. Tetapi kata tampan memiliki komponen atau ciri makna (+ laki-laki ) sedangkan kata cantik memiliki komponen atau ciri makna (-laki-laki),dan kata indah memiliki komponen atau ciri makna (- manusia ). Oleh karena itulah,ada bentuk pemuda tampan,gadis cantik,dan pemandangan indah,sedangkan bentuk *pemuda indah,*gadis tampan.*pemandangan cantik tidak dapat diterima. Kalau kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik karena sifatnya yang linear maka set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan. Contoh nya kata remaja merupakan pertumbuhan tahap pertumbuhan anak-anak dengan Pengelompokam kata berdasarkan kolokasi dan set dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai teori medan makna,meskipun unsur-unsur leksikal itu sering bertumpang tindih dan batas-batasnya sering kali juga menjadi kabur. Selain itu pengelompokan ini juga kurang memperhatikan perbedaan antara dasar dari suatu kata atau leksem dengan makna tambahan dari kata itu. Misal nya kata remaja dalam contoh diatas hsnys menunjukkan pada jenjang usia,yang barangkali antara 14-17 tahun. Padahal kata remaja juga sekaligus mengandung pengertian atau makna tambahan belum dewasa,keras kepala,bersifat kaku,suka mengganggu,membantah,mudah berubah-ubah sikap,pendirian dan pendapat.contoh lain,kata wanita,selain memiliki makna dasar manusia dewasa berkelaminan betina,juga memiliki makna tambahan seperti modern,berpendidikan cukup,tidak berkebaya,dan sebagainya. 2. Komponen Makna Komponen makna atau komponen semantik ( semantic feacture,semantic property,atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau bebrapa unsur yang bersama-sama membentuk kata atau makna unsur leksikal tersebut. Komponen Makna Ayah Ibu 1. Insan + + 2. Dewasa + + 3. Jantan + - 4. Kawin + + Keterangan : tanda + mempunyai komponen makna tersebut Tanda – berarti mempunyai komponen makna tersebut. Sebagai contoh Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S.Poerwardinata mendefenisikan kata kuda sebagai “ binatang menyusui yang berkuku dan biasanya dipiara orang untuk kendaraan”. Jadi,ciri binatang menyusui,berkuku satu, dan diasanya dipiara orang adalah yang menjadi ciri umum.lalu,ciri makna “ kendaraan “ menjadi ciri khusus yang membedakannya dengan sapi dan kambing. Untuk lebih jelas beda nya mari lihat bagan dibawah ini : Ciri-ciri Kuda Sapi Kambing Menyusui + + + Berkuku + + + Dipiara + + + kendaraan - - - Ada tiga hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan analisis Binear tersebut adalah : Pertama : ada pasangan kata yang salah atu daripadanya lebih bersifat netral atau umum sedangkan yang lain lebih bersifat khusus. Misalnya,pasangan kata “ mahasiswa” dan “ mahasiswi” . Kata " mahasiswa” lebih bersifat umum dan netral karena dapat termasuk “ pria” dan “ wanita”, sebaliknya kata mahasiswi lebih bersifat khusus karena hanya mengenai wanita, jadi : Ciri Mahasiswa Mahasiswi Pria + - Wanita + + Unsur leksikal yang bersifat umum seperti kata “ mahasiswa” ini dikenal sebagai anggota yang tidak bertanda dari pasangan itu. Dalam diagram anggota yang tidak bertanda ini diberi tanda 0 atau ±,sedangkan anggota yang lebih khusus dikenal sebagai anggota yang bertanda. Dalam diagram diberi + kalau memiliki ciri itu dan tanda – jika tidak memiliki ciri itu. Kedua : ada kata atau unsur leksikal yang sukar dicari pasangannya karena memang mungkin tidak ada,tetapi ada juga yang mempunyai pasangan lebih dari satu. Contoh nya kata “ berdiri “ . kata “berdiri” bukan hanya dipertentangkan dengan kata duduk,tetapi juga dengan kata tiarap,rebah,tidu,jongkok,dan berbaring. Duduk Berdiri Rebah Tidur Jongkok Berbaring Ketiga : kita seringkali mengatur ciri-ciri semantik itu secara bertingkat,mana yang lebih bersifat umum,dan mana yang lebih bersifat khusus. Umpanya ciri ( jantan ) dan ( dewasa ),mana yang lebih bersifat umum jantan atau dewasa. Bisa jantan tetapi bisa pula dewasa ,sebab tidak ada alas an bagi kita untuk menyebutkan cirri ( jantan ) lebih bersifat umum daripada cirri ( dewasa ),atau juga sebaliknya,karena cirri satu tidak menyiratkan cirri makna yang lain. 3. Kesesuaian Semantis dan Gramatis Seorang bahasawan atau penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya bukanlah karena dia menguasai semua kalimat yang ada di dalam bahasanya itu, melainkan karena adanya unsur kesesuaian atau kecocokan ciri-ciri lain semantik antara unsur leksikal yang satu dengan unsur leksikal lain. Umpamanya,antara kata wanita dan mengandung tidak ada kesesuaian cirri semantik. Tetapi antara jejaka dan mengandung tidak ada kesesuaian cirri itu. Cirri Wanita Jejaka Insan + + Mengandung + - .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar